Pesan Untuk Saudaraku Ardi Fardan Hidayat Juni 01 pada 1:37 am Teman-teman yang saya hormati, Izinkan saya menulis sebuah catatan untuk berbagi rasa dan pandangan bersama teman-teman. Semoga catatan ini menemui anda dalam keadaan baik, sehat dan makin semangat. Saya katakan kepada teman-teman, bahwa kegiatan kita kali ini adalah akan membuka sebuah fase perjuangan. Perjuangan untuk Dien ini, juga perjuangan untuk daerah kita sendiri. Untuk itu, mari kita jalani dengan cara terhormat. Perjuangan bersama ini terasa cemerlang, bukan karena sorot lampu terang penuh pujian. Perjalanan ini cemerlang karena kristal keringat teman-teman di seluruh daerah, karena sorot mata dan hati yang tulus. Ini yang membuat kita harus makin bersyukur. Untuk teman-teman koordinator daerah, saya tekankan sekali lagi makna apa yang diberikan di setiap peran yang kita lakukan. Peran bisa berganti, tapi di peran apapun kita harus memberikan makna yang positif dan harus bisa menjalankannya dengan cara yang terhormat. Saya percaya, bahwa teman –teman dapat melakukannya. Mari kita saling jaga agar semangat kita adalah semangat membuat forum ini lebih baik. Tolong transfer semangat ini kepada para Asatidz yang ada di tempat daurah masing-masing. Sebagai Ustadz, Anda adalah role model, Anda menjadi sumber inspirasi. Kita semua yakin, mengajar itu adalah memberi inspirasi. Menggandakan semangat, menyebarkan harapan dan optimisme. Saya yakin pengalaman satu pekan ini akan menjadi bagian dari sejarah hidup yang tidak mungkin bisa teman-teman lupakan: anak-anak didik itu akan selalu menjadi bagian dari diri Anda. Di tempat itu teman-teman akan menorehkan jejak, menitipkan pahala; bagi para siswa di sana, mata mereka bisa berbinar karena kehadiran Anda. Anda hadir memberikan harapan. . Anda hadir membuat anak-anak itu memiliki mimpi. Anda hadir membuat para orang tua di sana ingin memiliki anak yang terdidik seperti anda. Anda hadir merangsang mereka untuk punya cita-cita, punya mimpi. Mimpi adalah energi mereka untuk meraih baju baru di masa depan. Anda hadir disana, di sekolah mereka, Anda hadir membukakan pintu menuju masa depan yang jauh lebih baik. Keberhasilan Anda menjadi leader di hadapan anak-anak adalah pengalaman leadership yang kongkrit. Biarkan anak-anak itu memiliki Anda, mencintai Anda, menyerap ilmu Anda, mengambil inspirasi dari Anda. Anda mengajar selama sepekan, tapi kehadiran Anda dalam hidup mereka adalah seumur hidup, dampak positifnya seumur hidup. Dan untuk teman-teman Asatidz, hari ini adalah saatnya. Saat meneguhkan niat serta menguatkan kemauan luhur itu. Izinkan anak-anak di sekolah itu mencintai, meraih inspirasi dan berbinar menyaksikan kehadiranmu.  Setelah selesai kegiatan ini maka label Ustadz akan menempel seumur hidup. Jejak kalian di sana akan dicatat dengan pahala, akan ditandai dengan peluk persaudaran dan bersemai di kenangan anak-anak hingga generasi mendatang. Kelak, setiap anak-anak itu berhasil meraih mimpinya, maka pahala kalian selalu ada di dalamnya. Teman-teman Asatidz tercinta, teguhkan niatmu. Datangilah sekolah itu dengan keikhlasan, dengan rendah hati, dengan kesantuan, dengan kasih sayang. Sambutlah kehadiran anak-anak itu di kelasmu dengan rasa cinta, belai rambut mereka dengan kasih, tatap wajah polos mereka dengan pancaran senyum dan berikan yang terbaik darimu untuk mereka. Izinkan anak-anak berbinar melihatmu, belajar untuk maju darimu, mencintai ilmu darimu dan memandangmu sebagai visualisasi mimpi mereka dan visualisasi mimpi orang tua mereka. Izinkan mereka bermimpi bisa meraih apa-apa yang anda sudah raih. Tebarkan kesabaran, tumbuhkan pengetahuan, dan tanamkan ketangguhan berjuang di dada mereka. Mari kita renungi sebenar penggalan ilustrasi ini, Ilustrasi yang sering digunakan adalah tentang 3 orang tukang kayu yang membangun sebuah rumah ibadah. Tukang kayu pertama semata-mata melakukannya untuk mendapatkan uang. Purpose yang ia miliki hanya sebatas tujuan materi. Maka setiap detik dalam pekerjaan baginya hanya merupakan tambahan beban. Cepat selesai, cepat dapat upah. Itulah hal utama yang dikejarnya. Sedangkan tukang kayu kedua menikmati pekerjaannya sebagai bagian dari sebuah proses penciptaan karya seni. Ia ingin agar namanya terukir dan dikenang oleh setiap orang yang mampir di rumah ibadah itu nanti. Karenanya ia berusaha untuk menciptakan sentuhan artistik di setiap kayu yang dipasangnya. Tujuan hidupnya adalah mendapatkan pengakuan. Ia ingin dikenang oleh banyak orang. Sedangkan tukang kayu ketiga menganggap bahwa pekerjaan yang ia lakukan merupakan ibadah. Setiap titik keringat yang menetes ia nikmati, setiap hasil yang diperoleh ia syukuri. Tujuan hidupnya adalah pengabdian kepada Sang Pencipta melalui penciptaan karya di dunia. Inilah purposenya. Hasil akhirnya secara fisik mungkin tidak akan jauh berbeda. Perbedaaan akan terlihat saat upah yang dibayarkan ternyata tidak sesuai harapan, atau saat pujian ternyata tidak didapatkan. Kedua tukang kayu pertama mungkin tidak akan pernah lagi melakukan pekerjaan serupa. Berbeda dengan tukang kayu ketiga, karena memang bukan 2 hal tersebut yang menjadi tujuan utamanya. Teman-teman tercinta, sekali lagi teguhkan niatmu. Samudra peluang mengabdi itu ada di hadapanmu. Arungi dengan semangat, arungi dengan optimisme, arungi dengan pengetahuan. Dan kelak kembalilah dengan berderet tanda pahala di pundakmu. Pahala langgeng dan kenangan permanen yang bisa kalian ceritakan sampai pada anak-cucu nanti. Saya tulis ini semua dengan rasa haru, rasa bahagia, rasa bangga, dan dengan gelora optimisme. InsyaAllah, Jawa Timur kita akan menjadi lebih baik, lebih maju lewat langkah-langkah kecil ini. Maaf tidak bisa menemani langkah kalian di daerah. Min Huna Nabda’ wa fil Jannati Naltaqiy, Insha Allah. -Menjadi guru itu mulia. Menjadi guru itu wajar. Dan, adanya guru di daerah itu biasa. mengajar bukanlah sebuah pengorbanan, itu adalah sebuah kehormatan.- Salam hangat, Ardi Fardan

Pesan Untuk Saudaraku

Ardi Fardan Hidayat

Juni 01 pada 1:37 am

Teman-teman yang saya hormati,

Izinkan saya menulis sebuah catatan untuk berbagi rasa dan pandangan bersama teman-teman. Semoga catatan ini menemui anda dalam keadaan baik, sehat dan makin semangat.

Saya katakan kepada teman-teman, bahwa kegiatan kita kali ini adalah akan membuka sebuah fase perjuangan. Perjuangan untuk Dien ini, juga perjuangan untuk daerah kita sendiri. Untuk itu, mari kita jalani dengan cara terhormat. Perjuangan bersama ini terasa cemerlang, bukan karena sorot lampu terang penuh pujian. Perjalanan ini cemerlang karena kristal keringat teman-teman di seluruh daerah, karena sorot mata dan hati yang tulus. Ini yang membuat kita harus makin bersyukur.

Untuk teman-teman koordinator daerah, saya tekankan sekali lagi makna apa yang diberikan di setiap peran yang kita lakukan. Peran bisa berganti, tapi di peran apapun kita harus memberikan makna yang positif dan harus bisa menjalankannya dengan cara yang terhormat. Saya percaya, bahwa teman –teman dapat melakukannya. Mari kita saling jaga agar semangat kita adalah semangat membuat forum ini lebih baik. Tolong transfer semangat ini kepada para Asatidz yang ada di tempat daurah masing-masing.

Sebagai Ustadz, Anda adalah role model, Anda menjadi sumber inspirasi. Kita semua yakin, mengajar itu adalah memberi inspirasi. Menggandakan semangat, menyebarkan harapan dan optimisme.

Saya yakin pengalaman satu pekan ini akan menjadi bagian dari sejarah hidup yang tidak mungkin bisa teman-teman lupakan: anak-anak didik itu akan selalu menjadi bagian dari diri Anda.

Di tempat itu teman-teman akan menorehkan jejak, menitipkan pahala; bagi para siswa di sana,

mata mereka bisa berbinar karena kehadiran Anda. Anda hadir memberikan harapan. . Anda hadir membuat anak-anak itu memiliki mimpi. Anda hadir membuat para orang tua di sana ingin memiliki anak yang terdidik seperti anda. Anda hadir merangsang mereka untuk punya cita-cita, punya mimpi. Mimpi adalah energi mereka untuk meraih baju baru di masa depan. Anda hadir disana, di sekolah mereka, Anda hadir membukakan pintu menuju masa depan yang jauh lebih baik.

Keberhasilan Anda menjadi leader di hadapan anak-anak adalah pengalaman leadership yang kongkrit. Biarkan anak-anak itu memiliki Anda, mencintai Anda, menyerap ilmu Anda, mengambil inspirasi dari Anda. Anda mengajar selama sepekan, tapi kehadiran Anda dalam hidup mereka adalah

seumur hidup, dampak positifnya seumur hidup.

Dan untuk teman-teman Asatidz, hari ini adalah saatnya. Saat meneguhkan niat serta menguatkan kemauan luhur itu. Izinkan anak-anak di sekolah itu mencintai, meraih inspirasi dan berbinar menyaksikan kehadiranmu.  Setelah selesai kegiatan ini maka label Ustadz akan menempel seumur hidup. Jejak kalian di sana akan dicatat dengan pahala, akan ditandai dengan peluk persaudaran dan bersemai di kenangan anak-anak hingga generasi mendatang. Kelak, setiap anak-anak itu berhasil meraih mimpinya, maka pahala kalian selalu ada di dalamnya.

Teman-teman Asatidz tercinta, teguhkan niatmu. Datangilah sekolah itu dengan keikhlasan, dengan rendah hati, dengan kesantuan, dengan kasih sayang. Sambutlah kehadiran anak-anak itu di kelasmu dengan rasa cinta, belai rambut mereka dengan kasih, tatap wajah polos mereka dengan pancaran senyum dan berikan yang terbaik darimu untuk mereka. Izinkan anak-anak berbinar melihatmu, belajar untuk maju darimu, mencintai ilmu darimu dan memandangmu sebagai visualisasi mimpi mereka dan visualisasi mimpi orang tua mereka. Izinkan mereka bermimpi bisa meraih apa-apa yang anda sudah raih. Tebarkan kesabaran, tumbuhkan pengetahuan, dan tanamkan ketangguhan berjuang di dada mereka.

Mari kita renungi sebenar penggalan ilustrasi ini,

Ilustrasi yang sering digunakan adalah tentang 3 orang tukang kayu yang membangun sebuah rumah ibadah. Tukang kayu pertama semata-mata melakukannya untuk mendapatkan uang. Purpose yang ia miliki hanya sebatas tujuan materi. Maka setiap detik dalam pekerjaan baginya hanya merupakan tambahan beban. Cepat selesai, cepat dapat upah. Itulah hal utama yang dikejarnya.

Sedangkan tukang kayu kedua menikmati pekerjaannya sebagai bagian dari sebuah proses penciptaan karya seni. Ia ingin agar namanya terukir dan dikenang oleh setiap orang yang mampir di rumah ibadah itu nanti. Karenanya ia berusaha untuk menciptakan sentuhan artistik di setiap kayu yang dipasangnya. Tujuan hidupnya adalah mendapatkan pengakuan. Ia ingin dikenang oleh banyak orang.

Sedangkan tukang kayu ketiga menganggap bahwa pekerjaan yang ia lakukan merupakan ibadah. Setiap titik keringat yang menetes ia nikmati, setiap hasil yang diperoleh ia syukuri. Tujuan hidupnya adalah pengabdian kepada Sang Pencipta melalui penciptaan karya di dunia. Inilah purposenya.

Hasil akhirnya secara fisik mungkin tidak akan jauh berbeda. Perbedaaan akan terlihat saat upah yang dibayarkan ternyata tidak sesuai harapan, atau saat pujian ternyata tidak didapatkan. Kedua tukang kayu pertama mungkin tidak akan pernah lagi melakukan pekerjaan serupa. Berbeda dengan tukang kayu ketiga, karena memang bukan 2 hal tersebut yang menjadi tujuan utamanya.

Teman-teman tercinta, sekali lagi teguhkan niatmu. Samudra peluang mengabdi itu ada di hadapanmu. Arungi dengan semangat, arungi dengan optimisme, arungi dengan pengetahuan. Dan kelak kembalilah dengan berderet tanda pahala di pundakmu. Pahala langgeng dan kenangan permanen yang bisa kalian ceritakan sampai pada anak-cucu nanti.

Saya tulis ini semua dengan rasa haru, rasa bahagia, rasa bangga, dan dengan gelora optimisme. InsyaAllah, Jawa Timur kita akan menjadi lebih baik, lebih maju lewat langkah-langkah kecil ini. Maaf tidak bisa menemani langkah kalian di daerah. Min Huna Nabda’ wa fil Jannati Naltaqiy, Insha Allah.

-Menjadi guru itu mulia. Menjadi guru itu wajar. Dan, adanya guru di daerah itu biasa. mengajar bukanlah sebuah pengorbanan, itu adalah sebuah kehormatan.-

Salam hangat,
Ardi Fardan

woodendreams:

(by Wisconfun)
woodendreams:

(by `Hanna)